


Bangunan masjid yang terletak sekira
10 km sebelah utara Kota Serang ini merupakan peninggalan Sultan Maulana
Hasanuddin (1552-1570), putera pertama Sunan Gunung Jati. Konon, pembangunan
Masjid Agung Banten bermula dari instruksi Sunan Gunung Jati kepada Hasanuddin
untuk mencari sebidang tanah yang masih suci untuk pembangunan Kerajaan Banten.
Hasanuddin lalu shalat dan bermunajat kepada Allah agar diberi petunjuk tentang
tanah yang dimaksud ayahandanya. Setelah berdo’a, spontanitas air laut yang
berada di sekitarnya menyibak menjadi daratan. Selanjutnya, Hasanuddin mulai
mendirikan Kerajaan Banten beserta komponen-komponen lainnya, seperti alun-alun,
pasar dan masjid agung.
Selain Raden Sepat, beberapa kalangan menyebut Cek Ban Cut sebagai arsitek lainnya. Pendapat ini berangkat dari analisis pada dua tumpukan atap konsentris paling atas yang samar-samar mengingatkan idiom Pagoda China. Kedua atap itu berdiri tepat di atas puncak tumpukan atap ketiga dengan sistem struktur penyalur gaya yang bertemu pada satu titik. Peletakan seperti itu memperlihatkan kesan seakan-akan atap dalam posisi kritis dan mudah goyah, namun hal ini justru menjadi daya tarik tersendiri.
Dua tumpukan atap paling atas itu
tampak lebih berfungsi sebagai mahkota dibanding sebagai atap penutup ruang
bagian dalam bangunan. Tak heran jika bentuk dan ekspresi seperti itu
sebetulnya dapat dibaca dalam dua penafsiran: masjid beratap tumpuk lima atau
masjid beratap tumpuk tiga dengan ditambah dua mahkota di atasnya sebagai
elemen estetik.
Sejauh ini belum ada arsitektur
masjid yang serupa dengan Masjid Agung Banten. Hanya lukisan Masjid Jepara
sekira abad ke-16 yang dibuat Wouter Schouten dalam Reistogt Naar en Door
Oostindien dan dipublikasikan pertama kali pada tahun 1676 serta dicetak ulang
tahun 1780 memperlihatkan masjid beratap tumpuk lima. Masjid yang lukisannya
pernah dipublikasikan Francois Valentijn dalam Oude en nieuw Oost-Indien itu
memperlihatkan idiom pagoda Cina, baik dari bentuk, ekspresi, hingga ukirannya.
Menara berkonstruksi batu bata
setinggi kurang lebih 24 meter ini, konon dulunya lebih berfungsi sebagai
menara pandang ke lepas pantai karena bentuknya mirip mercusuar daripada
sebagai tempat mengumandangkan azan. Dan semua berita Belanda tentang Banten
hampir selalu menyebutkan menara tersebut, membuktikan menara itu selalu
menarik perhatian pengunjung Kota Banten masa lampau.
Berita itu menunjukkan pula menara
telah dibangun tidak berselang lama dengan pembangunan masjid. Dari hasil
penelusuran Dr KC Crucq, yang pernah dimuat dalam karangannya berjudul
Aanteekeningen Over de Manara te Banten (Beberapa Catatan tentang Menara di
Banten) yang dipublikasikan dalam Tidscrift Voor de Indische Taal, Land and
Volkenkunde van Nederlandsch Indie, dinyatakan, menara dibangun pada masa
Sultan Maulana Hasanudin ketika putranya Maulana Yusuf sudah dewasa dan
menikah.
Sementara itu, di sisi selatan masjid terdapat bangunan bertingkat bergaya rumah Belanda kontemporer yang disebut tiyamah (paviliun). Bangunan yang dirancang arsitek Belanda, Hendrik Lucasz Cardeel di abad ke-18 itu dulunya menjadi tempat pertemuan penting. Saat ini, bangunan yang berdenah empat persegi panjang, dua tingkat dan masing-masing memiliki tiga buah ruang besar tersebut difungsikan sebagai museum benda peninggalan, khususnya alat perang. Langgam Eropa sangat jelas pada bangunan itu, khususnya pada jendela besar di tingkat atas. Jendela itu dimaksudkan memasukkan sebanyak mungkin cahaya dan udara.
SEBENARNYA masih banyak elemen unik
lainnya yang secara singkat dapat disebutkan, seperti adanya umpak dari batu
andesit berbentuk labu berukuran besar dan beragam pada setiap dasar tiang
masjid. Yang berukuran paling besar dengan garis labu yang paling banyak adalah
umpak pada empat tiang saka guru di tengah-tengah ruang shalat. Ukuran umpak
besar ini tidak akan kita temui di sepanjang Pulau Jawa, kecuali di bekas
reruntuhan salah satu masjid Kasultanan Mataram di Plered, Yogyakarta.
Menurut Hatta Kurdie, labu tersebut
merupakan simbol dari pertanian. Karena Banten Lama terkenal makmur, gemah
rimpah loh jinawi. Bahkan pada masa kepemimpinan Maulana Yusuf , Banten
terkenal dengan persawahannya yang luas hingga mencapai batas sungai Citarum.
Dan keberadaan Danau Tasikardi merupakan bukti lain yang menguatkan pendapat
ini.
Selain itu, terdapat mimbar yang
besar dan antik penuh hiasan dan warna. Beberapa kalangan mengatakan, tempat
khotbah ini merupakan wakaf Nyai Haji Irad Jonjang Serang pada tanggal 23
Syawal 1323 Hijriyah (1903 M) sebagaimana tertulis dalam huruf Arab gundul pada
penampil lengkung bagian atas muka mimbar. Sementara Hatta Kurdie mengatakan,
mimbar itu merupakan buah karya Cek Ban Cut, arsitek kebangsaan China yang
berganti nama menjadi Pangeran Wiradiguna setelah masuk Islam. Pendapat ini
berangkat dari gaya arsitektur yang lebih mirip dengan budaya China, semacam
pagoda. Bahkan warnanya pun mirip dengan klenteng.
Berbeda dari mimbarnya yang menarik
perhatian, mihrabnya (tempat imam memimpin shalat) yang berbentuk ceruk justru
sangat kecil, sempit dan sederhana. Ini berbeda dari mihrab yang berkembang
pada masjid di belahan dunia lain.
Adanya pendopo dan kolam untuk wudu
di sebelah timur melengkapi karakteristik masjid Jawa umumnya. Tiang pendopo
yang dibangun pada masa pemerintahan Sultan Maulana Yusuf itu juga menggunakan
umpak batu labu dengan bentuk bangunan dan teknik konstruksi tradisional Jawa.
Kemudian pintu depan yang dibangun dengan ukuran kecil dan pendek, dapat
ditafsirkan berupa ajakan agar saat masuk masjid, kita harus bersikap tawadhu,
rendah hati dan tidak boleh sombong.
Yang aneh adalah tata letak makam
Sultan Maualana Hasanuddin beserta keluarganya. Secara tradisi, makam pendiri
masjid pada kompleks masjid tradisional di Jawa diletakkan di sisi barat, namun
di masjid ini diletakkan di sisi utara. Padahal di sebelah barat Masjid Agung
Banten terdapat makam Syarif Husein, penasehat Maualana Hasanuddin. Motif tata
letak ini juga terdapat di beberapa masjid bersejarah di wilayah Banten, seperti
di Masjid Kasunyatan yang dibangun oleh Maulana Yusuf, putra Maulana
Hasanuddin. Makam Maulana Yusuf tidak bertempat di sebelah barat masjid di mana
terdapat makam gurunya, Syekh Madani. Melainkan berada di tengah sawah.
Mengenai makam Maulana Yusuf ini, Hatta Kurdie berasumsi bahwa peletakan makam
di areal sawah tersebut karena kecintaan Maulana Yusuf yang ahli pertanian,
terhadap pertanian.
Demikianlah potret Masjid Agung
Banten Lama, sebuah peninggalan sejarah yang kaya akan nilai-nilai sejarah dan
multi budaya tapi tetap sarat nilai-nilai Islam. Tapi sayang, sejauh pengamatan
wartawan SC. Magazine, pemeliharaan terhadap situs sejarah ini kurang maksimal
dengan adanya kekeroposan tembok di mana-mana dan rumput liar serta sampah di
halaman masjid.
============ AYOOOO JELAJAH INDONESIA =========
No comments:
Post a Comment