Monday, 19 March 2018

JEMBATAN IR. SOEKARNO MANADO


Jembatan Ir. Soekarno di Manado, Sulawesi Utara telah diresmikan pada Mei 2015, setelah sempat terbengkalai 12 tahun. Jembatan sepanjang 1,127 km dan menelan biaya Rp 300 miliar ini punya pemandangan indah bila Anda berada di atasnya. Alhamdulillah kami anggota Pramuka dari PADK tahun 2017 berkesempatan foto selfie disini.

Bila Anda berdiri di atas jembatan ini, pemandangan Pulau Manado Tua terlihat indah dengan gunung yang menjulang di tengah-tengah laut Teluk Manado.

"Jembatan ini sudah teraspal sepenuhnya, jadi masyarakat bisa melewati. Ini jadi ikon Kota Manado. Dari jembatan ini kita bisa melihat Pulau Manado Tua,"

Proyek Jembatan Soekarno dimulai sejak tahun 2003 saat Presiden Megawati Soekarnoputri, panjang total 1.127 meter dan lebar 17 meter dengan anggaran Rp 300,28 miliar. Proyek ini didanai dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Pekerjaan ini dilaksanakan dengan kontrak tahunan dan kontrak tahun jamak.

Penyebab mangkraknya jembatan ini karena struktur tanah yang agak unik. Butuh penanganan khusus dalam pengerjaan jembatan yang kontraktornya adalah PT Hutama Karya (Persero).














================ AYOO  JELAJAH  INDONESIA  ============







GUNUNG PADANG CIANJUR


Kawasan Cianjur, Jawa Barat nggak cuma dikenal dengan panorama alam yang bikin hati sejuk dan tentram. Di salah satu sudutnya, kamu bisa bertemu dengan Situs Gunung Padang yang sangat terkenal.
Pertama kali muncul ke publik di tahun 2013 lalu, Situs Gunung Padang terletak di perbatasan Dusun Gunungpadang dan Panggulan, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur. Hadir di ketinggian 885 mdpl, Situs Gunung Padang merupakan kompleks kebudayaan Megalitikum yang sangat besar.
Para arkeolog bahkan memperkirakan Situs Gunung Padang merupakan situs peradaban manusia terluas yang pernah ada. Dengan usia yang mencapai ribuan tahun, Situs Gunung Padang bisa menjadi destinasi menarik yang kamu harus kunjungi.
Dilihat dari bentuknya, Situs Gunung Padang terkesan sangat tua. Vegetasi alam yang hadir di seluruh permukaan kompleks dibungkus oleh batu-batuan vulkanik purba yang membentuk punden berundak.
Para peneliti pun bolak balik melakukan pengujian untuk menentukan usia dari situs ini. Hasilnya, karbon yang terkandung di dalam batuan Situs Gunung Padang berusia lebih dari 11 ribu tahun, menjadikan situs ini yang tertua di dunia melebihi Pyramid Giza di Mesir.
Soal ukuran, Situs Gunung Padang di Cianjur juga jadi salah satu yang terluas, berdiri di atas tanah seluas 150 hektar, Situs Gunung Padang memilik ketinggian 100 meter per lapis.
Jika ditotal, Situs Gunung Padang 10 kali lebih luas ketimbang Candi Borobudur! Nggak heran, para arkeolog nggak berhenti buat meneliti situs ini untuk menguak peradaban sejarah manusia yang kemungkinan berubah.
Buku sejarah mencatat Bangsa Mesopotamia di Mesir sebagai peradaban manusia pertama di dunia. Namun semenjak Situs Gunung Padang ditemukan, peta peradaban dunia sedikit bergeser ke Indonesia.
Para arkeolog berbondong-bondong untuk mencari tahu tentang asal usul dari Situs Gunung Padang dan mengusut bangsa apa yang membangun situs ini.
buat kamu yang merasa ingin berlibur sambil belajar sejarah, Situs Gunung Padang di Cianjur bisa jadi alternatifnya.















=============AYOO  JELAJAH  INDONESIA============











DANAU LINOW


Perjalanan wisata Mantan Pengurus Deawan Kerja Gerakan Pramuka tahun 2017 yang dilaksanakan di Manado kali ini ke Danau Linow, Aba-aba untuk segera turun ke luar bis membuat saya harus menyudahi kenikmatan tidur di perjalanan. Beruntung apa yang saya temui di luar tak kalah manis. Meski saat itu langit cukup panas menyengat, tapi keindahan tempat ini cukup memukau saya yang baru pertama kali melihatnya. Selamat datang di Danau Linow.
Danau Linow adalah salah satu tempat wisata terbaik di Sulawesi Utara. Lokasinya ada di Kelurahan Lahendong, Kecamatan Tomohon Selatan. Dari Kota Tomohon jaraknya sekitar 3 kilometer. Kami  singgah ke Danau Linow dalam perjalanan menuju Manado dari Bentenan Center.
Sempat berpikir dari halaman parkir saya harus berjalan memutar untuk tiba di Danau Linow. Tapi rupanya hanya cukup berjalan beberapa meter saja melewati tangga menurun yang berujung di sebuah café. Saat itu pula pandangan mata saya langsung dikejutkan oleh bentang alam mengagumkan Danau Linow yang tersaji di depan café. Dan aroma belerang yang cukup menyengat hidung.
Cara pemasaran yang cukup cerdik menjadikan café sebagai lokasi utama untuk menyaksikan kemegahan alam. Begitu memasuki café kami langsung disuguhi pilihan secangkir teh atau kopi panas. Minuman selamat datang tersebut adalah kompensasi dari tiket masuk yang kami beli saat memasuki halaman parkir. Tapi untuk menikmati menu lainnya, pengunjung harus memesannya lagi dan membayar secara terpisah.
Siang itu suasana café tidak begitu ramai, sehingga rombongan Pramuka yang hamper 95 % menguasai tempat ini. Selain tempat makan indoor, café ini juga memiliki tempat makan dan bersantai di area terbuka yang langsung menghadap danau. Tempat inipun menjadi lokasi favorit untuk menikmati keindahan danau.
Cekungan Danau Linow berukuran besar seperti wadah air raksasa sehingga sepanjang mata memandang obyek-obyek di ujung danau terlihat sangat kecil. Menurut cerita  kata Linow memang berasal dari bahasa Minahasa yaitu lilinowan yang berarti tempat berkumpulnya air. Ditambah dengan perbukitan penuh pepohonan yang mengelilinginya, Danau Linow pun terlihat semakin cantik.
Jalan setapak juga dibangun di pinggir danau untuk memudahkan pengunjung yang ini berjalan-jalan santai menikmati keindahan Danau Linow dari dekat. Rumput dan sejumlah tanaman bunga yang sedang bermekaran mengiringi di sepanjang jalan setapak tersebut.
Tapi bukan itu saja yang memikat dari Danau Linow. Pada beberapa bagian di bibir danau, bongkahan batu serta tanah berwarna kuning dan coklat terang terlihat mengeluarkan uap. Di kejauhan uap yang berwarna putih itu bahkan menyembur lumayan tinggi. Pada sisi perairan danau yang dangkal gelembung udara berukuran kecil terlihat meletup-letup. Bau belerang pun tercium meski tidak terlalu kuat. Fenomena alam yang istimewa tersebut terbentuk karena Danau Linow menempati cekungan vulkanik.
Adanya kandungan belerang juga menciptakan keunikan pada citra warna air Danau Linow. Menurut informai air danau ini memiliki tiga warna. Tapi saat itu mata saya hanya mampu menangkap dua warna saja yaitu biru tosca dan hijau. Kombinasi keduanya terlihat indah di atas air. Selain karena belerang, warna air danau tampaknya juga dipengaruhi oleh pembiasan cahaya yang mencapai dasar danau dan adanya pantulan tumbuh-tumbuhan yang lumayan rimbun di pinggir danau.
Semua keindahan serta keunikan bentang alam Danau Linow disempurnakan oleh hawa sejuk dan segar yang menyelimuti danau. Suhu rata-rata di tempat ini mungkin sekitar 20 derajat celsius atau sedikit lebih rendah di waktu-waktu tertentu seperti saat hujan dan sore hari.
Rasanya nyaman dan syahdu  duduk menatap kemegahan ciptaan Tuhan di Danau Linow.


========= AYOOO JELAJAH  INDONESIA  ============









GOA AKBAR TUBAN



 Perjalanan yang ke tiga kali ke kota yang menasbihkan dirinya sebagai kota wali atau biasa juga disebut kota seribu goa yang sekilas mirip dengan kota lainnya di Jawa Timur, orang menyebutnya Kota Tuban. Dengan memarkir kendaraan dipasar kami berjalan kaki menuju Goa Akbar yang berada di bawah tanah.

Tepat dibawah perut pasar besar tuban dengan sejuta kegiatannya tersimpan dengan rapi Lukisan akan keindahan perut bumi Indonesia. Tepat sekitar 10 -15 meter kedalam kita akan menemui sebuah Goa yang sangat indah dan menyimpan cerita panjang di dalamnya, Goa Akbar namanya. Sebuah nama yang cukup tepat untuk menggamparkan betapa akbarnya goa ini sebenarnya.
 
Untuk menjangkau goa ini sangat mudah sekali, karena goa ini terletak di pusat kota Tuban. Jika kita sedang berziarah ke Makam Sunan Bonang kita bisa menaiki becak yang berjejer rapi sepanjang jalan untuk mengantarkan kita. Ataupun jika kita membawa kendaraan kita dapat menuju pasar baru tuban, maka petunjuk arah pun sudah sangat jelas. Dari komplek perkiran bus ziarah Sunan Bonang pun sangat dekat, hanya sekitar 200 meter berjalan kaki. Tiket masuk pun tergolong cukup murah hanya Rp. 5000 per orang.


Konon menurut cerita sekitar 500 tahun lalu, Sunan Bonang sedang melakukan perjalanan. Ketika menemui goa ini, Kanjeng Sunan Bonang terpesona dan seketika berucap, “Allahu Akbar”. Konon, sejak itulah, goa yang terletak di tengah Kota Tuban itu disebut Goa Akbar. Versi lain diceritakan, karena sekitar goa banyak dijumpai pohon Abar. Masyarakat setempat kemudian menyebutnya Ngabar.

Berdasar buku yang dihimpun Dinas Pariwisata Seni dan Budaya Kabupaten Tuban, kata Ngabar berasal dari bahasa Jawa yang berarti latihan. Konon, goa ini pernah dijadikan tempat persembunyian untuk mengatur strategi dan latihan ilmu kanuragan prajurit Ronggolawe, yang ketika itu berencana mengadakan pemberontakan ke Kerajaan Majapahit. Pemberontakan itu disulut oleh ketidakpuasan Ronggolawe atas pelantikan Nambi menjadi Maha Patih Majapahit. Karena seringnya dijadikan tempat latihan, goa dan daerah sekitarnya dijuluki Ngabar, yang kemudian seiring waktu menjadi nama dusun yaitu Dusun Ngabar, Desa Gedongombo, Kecamatan Semanding. Cerita mengenai asal usul ini memang berkembang bervariasi. Pastinya, kata Akbar itu kini dipergunakan Pemerintah Kabupaten Tuban sebagai slogannya. Akbar bermakna Aman, Kreatif, Bersih, Asri, dan Rapi.

Goa Akbar mengandung kisah keagamaan sangat tinggi. Diceritakan, konon Sunan Bonang mengetahui goa ini karena diajak Sunan Kalijogo yang saat itu masih bernama RM Sahid. Bila disimak cerita pada relief di dinding sebelah utara pintu masuk, digambarkan RM Sahid yang adalah putra Bupati Tuban ke-9 yang bernama Wilotikto diusir dari rumah karena bertabiat kurang baik. Karenanya ia dipanggil dengan nama Brandal Lokojoyo. Pertemuannya dengan Sunan Bonang di Kali Sambung, Brandal Lokojoyo mengatakan kalau rumahnya di goa. Alkisah, setelah ia terusir, RM Sahid memang tinggal di Goa Akbar. Perjalanan spiritual RM Sahid alias Brandal Lokojoyo kemudian menemui jalan kebenaran, dan terakhir menjadi Sunan Kalijogo. Beberapa tempat di Goa Akbar akhirnya dipercaya sebagai tempat perjalanan religius Sunan Kalijogo dan Sunan Bonang, di samping wali-wali yang lain.
 
Begitu memasuki goa dengan luas kurang lebih 1 ha ini maka kalimat saya yang terucap adalah “Allahu Akbar”, setiap saya berkunjung pun perasaan takjub akan maha karya Tuhan selalu terulang. Jauh dari perkiraan wisatawan tentang goa yang gelap dan berbau kotoran kelelawar, kini di dalam goa telah dibangun jalur dari paving block yang dibatasi oleh pagar steinless steel. Selain pagar pembatas, di lintasan sepanjang 1,2 kilometer itu tertempel larangan balik arah, agar pengunjung tidak sampai kebablasan tanpa memperhitungkan keselamatan. Di sana juga terdapat sumber air yang bernama Kedung Tirta Agung.

Stalaktit dan stalagmit yang muncul di dalam goa pun semakin indah akibat pantulan pantulan sinar lampu. Ornamen Ornamen gua pun diberi nama tersendiri mengikuti akan bentuknya, sungguh unik. Sepanjang lintasan ini terdapat setidaknya tiga ruang besar semacam hall. Ruang besar ini kerap menjadi terminal pengunjung untuk bersantai sejenak. Di akhir perjalanan terdapat semacam hall yang dinamakan Paseban Para Wali atau tempat para wali menyampaikan fatwa dan ajaran agama. Di tempat ini juga terdapat stalaktit dan stalagmiy yang seakan menjadi hiasan ruangan ini, sungguh indah dan tetap nuansa religi masih kental terasa, ditambah dengan adanya batu-batu besar yang terletak di bagian depan ruang, seakan menjadi podium bagi pembicara. Beberapa tempat di Goa Akbar akhirnya dipercaya sebagai tempat berkumpul dan bermusyawarah para sunan pada jaman dahulu kala.

Seiring beragamnya cerita yang menyelimuti, Goa Akbar memiliki banyak ruang dan ornamen batu dalam berbagai bentuk, yang memiliki jalinan kisah tersendiri. Kisah itu berkaitan dengan sejarah wali-wali dalam melakukan syiar agama di desa-desa hingga kawasan pantura.

==========  AYOO JELAJAH  INDONESIA  ==============


BANTENAN MINAHASA


Acara Temu Nasional Mantan Aktifis Pramuka tahun 2017 di manado, oleh panitia kami diajak untuk melihat – lihat kain Bentenan. Sebelum kita mengenal lebih jauh tentang kain Bentenan Minahasa, alangkah baiknya kita mengenal terlebih dahulu tentang istilah ‘’Bentenan’’. Bentenan sebenarnya adalah nama sebuah pulau atau pun teluk yang terdapat di pantai timur Minahasa Selatan. Singkat cerita, pada abad 15, wilayah tersebut adalah sebuah kawasan transit para pelaut Filipina sebelum mereka menuju Ternate. Lalu apa hubungannya dengan warga Minahasa? Menurut sumber yang terpercaya, keahlian warga Minahasa dalam menenun benang kapas tersebut, diperoleh dari para pelaut yang melakukan transit karena menetap selama berbulan-bulan disana.
Teknik double merupakan teknik yang biasa dipakai untuk membuat kain bentenan. Ada dua benang yang biasa dipakai dalam membuat kain Bentenan Minahasa, yaitu benang Sa’lange yang berfungsi untuk membentuk lebar kain dan satunya lagi yaitu kain Wasa’lene atau disebut lungsi (kain yang memanjang). Meski teknik tenun ikat yang satu ini amat jarang digunakan di daerah lain dengan kesulitan yang cukup tinggi. Namun warga Minahasa tetap menggunakan teknik ini karena untuk menciptakan gambar tenun ikat yang halus, rumit dan sangat unik.
Pada masa penjajahan Belanda, kain Bentenan Minahasa sempat menghilang. Hal ini dikarenakan karena terdapat perubahan tatanan sosial dari adat ke tatanan penjajahan yang akhirnya menghilangkan upacara ritual adat. Kita ketahui bersama bahwa dalam upacara ritual adat, warga Minahasa memakai kain tradisional Bantenan ini sebagai kostum selama ritual adat berlangsung, utamanya digunakan oleh kalangan petinggi daerah atau kepala suku. Namun setelah adanya reformasi di tahun 1998, kain Bantenan mulai di produksi kembali, kini semakin banyak orang yang memakai kain motif Bentenan ini, bukan hanya untuk acara ritual adat namun sudah merambah ke instansi di Sulawesi Utara yang diwajibkan seminggu sekali untuk mengenakan baju dari bahan kain Bentenan Minahasa dari pejabat daerah ke seluruh pegawai negeri sipil disana. Dengan perpaduan corak yang unik, yaitu antara Dayak dan Ulos (batak) merupakan poin yang membedakan kain ini dengan kain batik asal Jawa.
Mengingat akan adanya pasar bebas di kawasan ASEAN yang sebentar lagi akan terealisasi, tidak menutup kemungkinan bahwa kain ini akan kalah pamor dengan kain import dari negara lain dan akhirnya menghilang kembali. Maka, marilah kita mengajak masyarakat Indonesia untuk menjaga tradisi yang amat berharga ini sebagai bagian dari mencintai budaya bangsa Indonesia dengan cara memelihara warisan budaya kita sendiri.

======== AYOO JELAJAH INDONESIA  =========








Monday, 27 November 2017

GUNUNG MAHAWU

Di puncak Mahawu ini, wisatawan selain melihat kedalaman kawah dan berjalan mengelilingi pinggiran kawah, pemandangan ekstotis di sekitarnya juga bisa dinikmati.
Pemandangan jelas kawah Gunung Lokon, gunung Manado Tua, pulau Bunaken, Kota dan teluk Manado, gunung Klabat, Danau dan kota Tondano, serta kota Tomohon akan terlihat jika wisatawan mengelilingi jalan setapak di bibir kawah.
Berada di puncak ini, serasa telah menaklukkan sebagian Sulawesi Utara.
Untuk mengelilingi bibir kawah ini, jalan setapak telah dibeton.
Saya dan istri serta sahabat saya yudhi dan istri, tidak ikut rombongan Pramuka yang lain, yang sedang menikmati bunaken, kami mendaki Gunung Mahawu di Kota Tomohon, Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) menjadi alternatif bagi kami untuk menikmati keindahan puncak bukit, ini salah satu tujuan wisatawan setelah Gunung Lokon ditetapkan pusat vulkanologi dan mitigasi bencana geologi berstatus siaga pada level III.
Saat kami menuju  puncak kawah Gunung Mahawu kami hanya bertemu dengan beberapa orang saja yang sedang menurunin anak tangga, dan memberikan semangat kepada kami agar tetap semangat dan terus mendaki dan mengatakan di atas pemandangannya sangat indah, sesampai di puncak kami bertemu dengan sepasang turis dari Belanda, kami berkenalan sejenak dan berfoto bersama, turis mancanegara juga mengagumi pemandangan alam dari puncak gunung tersebut.
Setelah puas ber foto ria kami, merasa cukup dan menuruni anak tangga, saat kami turun kami bertemu dengan beberapa pengunjung yang mendaki, kini giliran kami lagi yang memberikan semangat kepada mereka.


==========AYOOO JELAJAH INDONESIA =======





MAKAM TEUNGKU IMAMBONJOL

Alhamdulilah, saat acara Temu Nasional Mantan Pengurus Dewan Kerja Gerakan Pramuka Tahun 2017 yang diadakan di Manado, kami menyempatkan diri untuk mengunjungi makam Pahlawan Nasional Tuanku Imam Bonjol, Kisah tentang perjuangan Tuanku Imam Bonjol sudah kita ketahui bersama baik pada buku buku sejarah kepahlawanan, maupun cerita cerita tentang pahlawan nasional, beliau terus melawan kolonial Belanda meski harus diasingkan ke berbagai pelosok nusantara. Ulama besar dari Minangkabau itu menghembuskan napas terakhirnya pada 6 Nopember 1864, di sebuah desa kecil bernama Lotta, Kecamatan Pineleng, Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara.
"Tuanku Imam Bonjol tidak mau menyerah pada Belanda. Dia rela diasingkan, dari pada harus berhianat pada bangsanya. Hingga akhirnya dia wafat di Lotta ini.
Perjalanan yang ditempuh dari Manado, ibu kota Provinsi Sulawesi Utara ke lokasi makam Imam Bonjol memakan waktu sekitar 30 menit dengan kendaraan bermotor. Makamnya kini dijaga oleh keturunan pengawal setia Imam Bonjol bernama Apolos Minggu. Abdul Mutalib adalah generasi kelima Apolos Minggu.
"Ibu saya Ainun Minggu (80) adalah keturunan keempat dari Apolos Minggu. Apolos ketika itu menikahi gadis Minahasa bernama Mency Parengkuan. Dari situ kemudian lahirlah keturunan-keturunan berikutnya," ujar Abdul. 
Mency yang bernama lahir Wilhelmina Parengkuan adalah gadis cantik putri Mayor Kakaskasen di Lota, Paul Frederik Parengkuan. Mendengar informasi putrinya bakal diculik para pekerja tambang, Paul memilih untuk menikahkan Menci dengan Apolos Minggu.
"Menci masuk Islam dan bernama Yunansi, yang lantas menurunkan generasi hingga sekarang ini, sudah tujuh generasi," tutur Abdul.
Dia mengatakan, dalam pengasingan itu Tuanku Imam Bonjol tidak menikah. "Sehingga yang ada saat ini adalah keturunan dari pengawal yang bernama Apolos tadi," ujar Abdul.
Dari sejumlah cerita yang berkembang serta beberapa literatur, Apolos disebutkan seorang kopral yang setia terhadap Imam Bonjol. Dia sebenarnya berasal dari Maluku yang bertemu saat Imam Bonjol diasingkan ke Ambon, sebelum akhirnya dibuang dan wafat di Minahasa.
Makam Imam Bonjol berada di lahan seluas 75 meter x 20 meter. Suasana di makam ini sejuk sebab terlindung pepohonan rimbun. Pusara Imam Bonjol berada dalam bangunan berbentuk rumah adat Minangkabau, berukuran 15 meter x 7 meter. 

"Ini satu-satunya bangunan di Minahasa dengan model rumah adat Minangkabau. Ditambah tulisan-tulisan huruf Arab yang menghiasi bangunan ini," ujar Abdul, yang kesehariannya dipanggil Popa ini.

Pada bagian belakang bangunan makam mengalir Sungai Malalayang. Dengan menuruni sedikitnya 74 anak tangga dan jalan yang berkelok-kelok di tepian sungai, terdapat sebuah bangunan yang dulunya dipakai Imam Bonjol sebagai tempat melaksanakan salat. 
"Kini tempat itu dijadikan mushala bagi para peziarah yang melakukan shalat. Meski memang di seberang jalan, berhadapan dengan kompleks makam juga berdiri sebuah mesjid yang dinamakan masjid Imam Bonjol.
Kini di kompleks sekitar makam Tuanku Imam Bonjol, terdapat sedikitnya 20 kepala keluarga. Merekalah yang setiap hari mengurus keberadaan makam Imam Bonjol. 
"Kami semua punya garis keturunan yang sama dari Apolos Minggu. Keluarga-keluarga ini yang membentuk komunitas Islam di Lotta, dan kemudian menyebar ke Pineleng sebagai pusat kecamatan," tutur dia.
Atas jasa-jasanya, Tuanku Imam Bonjol diberikan penghargaan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan SK Presiden RI Nomor 087/TK/Tahun 1973. Meski demikian, kepedulian pemerintah terhadap keberadaan makam itu sangat kurang. 
"Kami keluarga yang berusaha tetap merawat dan menjaganya. Tidak ada perhatian dari Pemerintah Sulawesi utara, padahal makam ini banyak dikunjungi warga dari luar Sulawesi Utara," ujar Papo.

Untuk biaya perawatan, terdapat dua kotak amal di bagian depan makam. Meski tidak semua pengunjung yang datang memberikan sumbangan, hal itu tidak menyurutkan semangat Papo dan keluarganya untuk menjaga makam itu. 
Pada era pemerintahan Gubernur Sinyo Sarundajang periode 2010-2015, sempat muncul rencana dari keluarga Imam Bonjol untuk memindahkan makam itu ke tanah kelahirannya di Sumatera Barat. Wacana itu ditentang warga, begitu pun dengan Sinyo. 
Sinyo berpendapat, Imam Bonjol sudah menjadi ”orang Minahasa” karena sempat hidup di Lota, Pineleng, selama sekitar 20 tahun sebelum wafat pada 6 November 1864.
"Tuanku Imam Bonjol juga pahlawan kami. Pemerintah Provinsi Sulut sudah menganggarkan dana untuk renovasi makamnya," kata Sinyo ketika itu.
Pria pensiunan salah satu BUMN ini itu mengatakan Tuanku Imam Bonjol lahir di Bonjol, Pasaman, Sumatera Barat, pada 1772. Dia seorang ulama, pemimpin dan pejuang yang berperang melawan Belanda.

Tuanku Imam Bonjol juga berperang melawan kaum adat untuk menegakkan nilai-nilai Islam, dalam peperangan yang dikenal dengan nama Perang Padri pada 1803-1838. 
"Ada nilai sejarah, cinta tanah air dan nilai agama yang bisa kita pelajari dan teladani dari Imam Bonjol. Melalui makam ini, nilai itu bisa selalu kita jaga," ujar Papo yang hari itu menggantikan peran ibunya yang sakit.
Saya bersama sahabat pramuka Yudhi Basrie dan Nana istrinya, sempat berselfie dan mendoakan beliau, agar di terima Allah amal perbuatan dan jasa beliau serta di ampuni segala dosa dan kesalahan beliau.





========== AYOOO JELAJAH  INDONESIA  =========